Kursus Fotografi #1: Mengenal Eksposure

By Codesigncod - Januari 26, 2018

Kursus Fotografi #1: Mengenal Eksposure

Eksposur (exposure) secara bebas disebut juga pencahayaan. Eksposur merupakan inti dalam fotografi yang juga memainkan peran utama dalam menentukan baik atau buruknya kualitas foto Anda.
Pada kamera DSLR telah disediakan beberapa pilihan mode eksposur "khusus" yang bekerja secara auto untuk keperluan tertentu seperti memotret olahraga, kebang api, closeup, dll. Secara keseluruhan mode eksposur pada kamera terkadang disebut juga sebagai mode pemotretan.

Namun sayangnya mode auto atau mode lain serupanya hanya bekerja sesuai kehendak program, bukan sesuai kemauan Anda. Maka terkadang hasil foto menggunakan mode auto ini berbeda dengan yang Anda harapkan. Oleh sebab itu, sejatinya eksposur yang lebih baik itu adalah yang dibentuk secara manual sesuai keinginan Anda.


Eksposur terbentuk dari 3 elemen / pengaturan utama yaitu:

1. Shutter Speed

Saat Anda menekan tombol shutter untuk memotret, maka shutter (rana) akan terbuka lalu tertutup kembali dengan rentang waktu tertentu. Nah! Lamanya waktu shutter atau rana itu terbuka lalu tertutup kembali itulah yang dimaksud dengan shutter speed. Agar lebih mudah Anda pahami, coba Anda perhatikan gambar cara kerja shutter speed di bawah ini:



Sensor kamera ditutupi (diblok) oleh shutter atau rana sehingga terkadang shutter ini juga disebut sebagai "shutter plane". Sedangkan didepan sensor dan shutter tersebut terdapat "mirror" yang berfungsi merefleksikan adegan ke pentaprisma lalu dipantulkan lagi ke viewfinder. Nah! Ketika Anda menekan tombol shutter untuk memotret, maka posisi mirror naik ke atas (lock-up) lalu shutter terbuka, dan pada saat itulah sensor merekam adegan (pengambilan gambar). Kemudian pada saat yang bersamaan pula "cahaya" akan ikut masuk melalui lensa menuju sensor. Oleh sebab itu cepat lambatnya waktu shutter bekerja juga mempengaruhi kualitas pencahayaan pada hasil gambar. Kesimpulannya yaitu semakin lama waktu shutter atau rana terbuka dan tertutup, maka semakin besar peluang cahaya yang masuk dan menghasilkan foto yang terang.

Seperti halnya jendela kamar Anda, ketika Anda membukanya lalu menutup kembali dengan waktu yang sangat cepat maka tentunya udara dari luar yang masuk sangat sedikit atau mungkin tak ada sedikitpun. Begitupula sebaliknya kalau Anda membuka tutup jendela kamar dengan waktu yang lama maka jumlah udara yang masuk akan jauh lebih banyak. Seperti itu kira-kira analogi peluang cahaya yang akan masuk saat shutter terbuka.

Anda bisa mengatur rentang waktu (shutter speed) tersebut secara manual sesuai keinginan Anda.Shutter speed secara manual tidak bisa dilakukan pada mode Auto atau Program (P), melainkan pada mode Manual Exposure (M) atau mode Shutter Priority. Pada kamera Canon, mode Shutter Priority ditulis dalam simbol (Tv), sedangkan pada Nikon dan kebanyakan kamera lainnya ditulis dalam simbol (S). Jadi, langkah pertama silahkan putar tombol mode-dial pada kamera Anda dan pilih mode manual (M) atau Tv (pada Canon) atau S (pada Nikon). Perhatikan gambar dibawah ini:



Selanjutnya Anda akan melihat nilai shutter speed tampil di monitor LCD kamera. Perhatikan gambar di bawah ini.



Silahkan Anda pilih menu shutter speed (lihat yang dilingkari) lalu ganti kecepetannya sesuai kebutuhan Anda. Jika ingin memotret gerakan cepat (olahraga atau kendaraan berjalan) maka Anda membutuhkan shutter speed yang sangat cepat pula yaitu kisaran 1/500 - 1/1000. Namun jika Anda memotret subjek diam maka nilai aman untuk mendapatkan hasil yang baik dan mencegah "hand shake (getaran oleh tangan)" yaitu gunakan shutter speed 1/100 - 1/250. Nilai-nilai tersebut sifatnya kondisional, bisa saja berbeda dengan kebutuhan pemotretan di lapangan.

Saat mengatur shutter speed Anda harus mengingat kembali fungsi dan cara kerjanya serta perhatikan juga resikonya. Contohnya, pada kondisi kurang cahaya dengan shutter speed yang sangat cepat tentunya cahaya yang diterima oleh sensor akan sedikit dan hasil foto Anda akan cenderung gelap. Oleh karena itu Anda harus cerdas menggunakannya dengan mempertimbangkan pengaturan pembentuk eksposur lainnya (diafragma dan ISO).

Contoh hasil foto menggunakan shutter speed cepat dan lambat

2. Aperture / Diafragma

Bila pada shutter speed mengenai rentang waktu terbukanya shutter atau rana, maka pada aperture / diafragma adalah lebar sempitnya bukaan pada lensa. Untuk mengetahui seperti apa bentuk bukaan lensa tersebut silahkan lihat gambar di bawah ini:



Bila pada shutter speed mengenai kecepatan maka pada aperture mengenai lebar dan sempitnya bukaan lensa yang terhubung ke kamera. Cara kerjanya yaitu ketika semakin lebar bukaan pada lensa maka semakin banyak pula cahaya yang masuk, dan hasilnya dapat meningkatkan kecerahan pada foto Anda. Selain itu, lebar sempitnya bukaan aperture juga mempengaruhi ruang ketajaman pada gambar.
Nilai aperture ditulis dalam satuan "f/". Banyak pemula yang salah menggunakan aperture dikarenakan mereka keliru membaca nilai aperture. Setiap nilai mewakili bukaan dan perlu Anda ingat bahwa nilai aperture dipahami secara terbalik. Sebagai contoh, untuk bukaan terlebar diwakili oleh nilai yang kecil katakanlah ia "f/1.8" atau lebih kecil dari itu. Sedangkan untuk bukaan tersempit diwakili oleh nilai yang besar yaitu "f/22". Kesimpulannya adalah semakin kecil nilai aperture maka semakin lebar bukaan pada lensa, begitupula sebaliknya. Agar mudah Anda pahami, silahkan perhatikan gambar aperture lensa di bawah ini:



Sama halnya seperti shutter speed bahwa aperture bisa diatur sesuka Anda hanya pada mode manual exposure (M) atau aperture priority, dan Anda tidak bisa mengaturnya pada mode auto atau program (P). Pada kamera Canon, aperture priority ditulis dalam simbol (Av), sedangkan pada Nikon dan kebanyakan kamera lainnya ditulis dalam simbol (A). Jadi, langkah awal silahkan masuk ke mode manual (M) atau Av (Canon) atau A (Nikon). Coba Anda perhatikan gambar di bawah ini:



Setelah itu pada monitor LCD silahkan pilih menu aperture (lihat yang saya lingkari) lalu ganti nilainya sesuai yang Anda butuhkan. Perhatikan gambar di bawah ini:



Dengan mengetahui cara menggunakan aperture dan shutter speed secara manual maka Anda sudah memahami dasar fotografi yang paling utama.

Contoh penggunaan Aperture 


3. ISO

Setelah membahas dua pengaturan (shutter speed dan aperture) untuk membentuk sebuah eksposur secara manual, maka selanjutnya kita melangkah ke pengaturan yang terakhir yaitu ISO. ISO adalah ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya. Simpelnya agar mudah Anda pahami bahwa ISO adalah pengaturan untuk menentukan tinggi rendahnya pencahayaan pada hasil foto Anda.
Anda tidak selalu berhadapan dengan kondisi cahaya yang cukup terang. Akan ada saat dimana Anda memotret dalam ruangan atau di malam hari. Pada kondisi seperti itu cahaya sangat minim dan Anda membutuhkan pengaturan dukungan dari ISO untuk memaksimalkan kualitas cahaya pada foto Anda.

Memang ada cara lain untuk menghadapi kondisi yang kurang cahaya yaitu dengan mengatur shutter speed menjadi lambat agar banyak cahaya yang masuk ke sensor. Akan tetapi trik ini memiliki resiko terjadi motion blur pada hasil foto Anda. Oleh sebab itu mengatur ISO tinggi adalah solusinya tapi itupun juga memiliki resiko timbulnya noise pada foto. Mengapa tidak menggunakan bantuan flash? Tidak semua orang menyukai hasil foto menggunakan bantuan flash, dan tidak setiap situasi cocok menggunakan flash.

Nilai ISO memiliki kelipatan "x2" dan ISO default atau terendah adalah 100. Sedangkan kelipatannya yaitu 200, 400, 800, 1600, 3200, 6400, dan seterusnya. Kelipatan atau tingkatan ISO tersebut disebut dengan istilah "stop". Jadi! Jika ada yang menyebut "naik 1-stop" maka berarti ISOnya naik dari nilai 100 ke 200 dan seterusnya berlaku kelipatan.



Sulit menentukan mana nilai ISO ideal karena itu tergantung kebutuhan dan kondisi cahaya ditempat Anda memotret. Namun untuk menghasilkan foto dengan "kualitas aman (tidak noise)" maka Anda bisa menggunakan ISO antara 100-400. ISO tertinggi yang disarankan agar tidak menimbulkan noise yaitu 800. Akan tetapi ada pula kondisi dimana Anda membutuhkan ISO hingga 3200. Kesimpulannya semua tergantung kebutuhan Anda dan situasi pencahayaan yang Anda hadapi.

Berbeda dengan cara mengatur shutter speed dan aperture, selain mode auto, Anda bisa leluasa mengatur ISO pada mode manual exposure (M), shutter priority (Tv atau S), aperture priority (Av atau A), bahkan mode program (P). Pada menu dalam monitor LCD, menu ISO berdekatan dengan menu shutter speed dan aperture. Jadi seharusnya ini sangat mudah bagi Anda menemukan 3 pengaturan tersebut. Adapun cara untuk mengatur ISO silahkan Anda perhatikan gambar di bawah ini:



Pilih menu ISO sesuai dengan gambar di atas dan silahkan pilih nilai ISO sesuai yang Anda butuhkan.



Ketiga elemen di atas dikenal sebagai segitiga eksposur (exposure triangle). Ketiganya saling berkaitan dan hasil kolaborasi dari ketiga pengaturan tersebut itulah yang menciptakan sebuah eksposur / pencahayaan. Lantas bagaimana ketiga pengaturan tersebut bekerja dan membentuk sebuah eksposur?

Seperti yang dijelaskan di atas tentang shutter speed, bahwa shutter atau rana akan terbuka dan tertutup saat Anda memotret. Nah! Pada saat shutter itu terbuka, sensor akan merekam adegan (pengambilan gambar) dan di saat yang bersamaan pula cahaya yang menentukan terang dan gelapnya hasil foto Anda juga ikut masuk melalui melaui lensa menuju sensor. Jadi, semakin lama waktu shutter itu terbuka (rana lambat) maka semakin besar peluang cahaya masuk, dan hasilnya foto Anda akan semakin terang. Seperti itulah cara kerja shutter speed. Kemudian untuk cara kerja aperture yaitu semakin lebar bukaan pada lensa maka semakin banyak pula cahaya yang masuk, dan hasilnya foto Anda juga akan terang. Selain itu, semakin besar bukaan aperture, semakin lebar pula ruang tajam yang anda dapatkan. Gunakan juga ISO untuk menambah cahaya yang masuk.



  • Share:

You Might Also Like

0 komentar